Setelah Din Mini Cs turun gunung, aksi penculikan
bersenjata api masih saja terjadi di Aceh. Kali ini sasarannya Kamal Bahri
(42), Sekretaris Unit Layanan Pengadaan (ULP) Pemerintah Aceh. Aksi itu
berakhir dengan tewasnya dua dari empat penculik, setelah sempat terjadi kontak
tembak antara pelaku dan polisi.
Insiden ini kembali memperpanjang aksi bersenjata api
di Aceh. Aksi bak film laga ini tampaknya sudah menjadi kegemaran dan terbiasa
dalam masyarakat kita. Dari beberapa kasus sebelumnya, sebagian diyakini
berkaitan dengan politik, sebagian bermotif uang, dan sebagian besar tidak
terungkap bahkan pengusutannya hilang begitu saja di kepolisian.
Apakah kasus kali ini karena tidak terpenuhinya
harapan? Tekanan hidup, hanya dendam kriminal biasa atau dendam politik? Kita
hanya bisa menduga-duga. Yang jelas, kekerasan bersenjata api seolah begitu
mudah dilakoni oleh siapa saja, yang menyebabkan perjalanan damai di bumi Aceh
masih ‘terbatuk-batuk’ hingga sekarang ini.
Mengapa mereka nekat menculik dan tidak merasa takut menggunakan
senjata api dalam menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapinya? Mungkin ini
karena kita semua telah terbiasa dan mungkin juga menyimpan perangai hampir
sama. Hanya kebetulan beda nasib dan kedudukan saja. Naluri dan logika berpikir
dalam menjalani hidup tampaknya hampir sama, bermental bengis dan menggemari
aksi kaum bar-bar.
Apalagi dalam kasus penculikan Sekretaris ULP
Pemerintah Aceh yang diyakini tidak lepas dari proses pelelangan proyek, tentu
membuat siapa saja bisa kalap. Inidikasi ‘permainan’ yang kerap muncul dalam
proses pelelangan proyek-proyek pemerintah memang bisa membuat sekelompok orang
kecewa, terlebih mereka yang merasa dizalimi oleh panitia pelelangan. Maka,
aksi nekat pun menjadi pilihan, menyelesaikan persoalan dengan cara-cara
brutal.
Meski begitu, kita tetap berharap agar polisi bisa
mengungkap motif sesungguhnya di balik penculikan itu. Kelihatannya polisi
harus bekerja lebih keras, sehingga masyarakat tidak beramsumsi bahwa penegakan
hukum di Aceh hanya bermain di kulitnya, tanpa berani masuk ke akar
persoalannya. Kita ingin melihat apa yang melatarbelakangi penculikan
Sekretaris ULP itu? Adakah kaitannya dengan proses pelelangan yang tidak sehat di
ULP Pemerintah Aceh? Atau ada motif politik lain di baliknya?
Ini semua harus diungkap tuntas, agar kita tidak saja
menghujat para penculik, tapi juga mengetahui akar persoalan yang sebenarnya. Bisa
saja korban penculikan tersebut telah berlaku tidak adil dalam menjalankan
tugas dan kewenangannya selaku pelaksana lelang, sehingga ada pihak yang merasa
terzalimi? Kalau memang motifnya mengarah ke sana, maka perlu diusut juga
kemungkinan-kemungkinan penyimpangan lain di ULP Pemerintah Aceh.
Selama ini, persekongkolan untuk memenangkan peserta
tender tertentu yang bernuansa korupsi memang sudah kerap terjadi dalam proses
pelelangan proyek pemerintah. Kita tidak heran lagi dengan munculnya dugaan
diskriminasi, spesifikasi yang mengarah pemenang tertentu, dan proses tender yang
tidak transparan. Sayangnya, tidak semua kasus bisa sampai ke ranah hukum,
karena sebagaian besar memang melibatkan oknum penegak hukum dan sebagian
lainnya luput dari pantauan hukum.
Harapan kita, kasus penculikan yang menewaskan dua
pelakunya itu bisa terungkap tuntas. Tidak saja berhasil membekuk dua pelaku
lain yang masih buron, tapi polisi juga harus mengungkap motif di balik aksi
tersebut. Semoga polisi dapat menjadikan kasus ini sebagai pintu masuk untuk mengusut
indikasi penyimpangan dalam proses tender yang dilaksanakan ULP Pemerintah Aceh
selama ini. Semoga![]