Lelaki tanpa Matahari (17)

Sejak itu, aku berusaha melupakan Amelia. Tapi, cinta yang pernah kudapatkan darinya telah membuatku hanya berpikir tentang perasaan orang lain. Cinta yang membuat aku selalu mendahulukan orang lain. Cinta yang kemudian menjadi bumerang, membelenggu proses kreativitasku dan membuat kualitas diriku mandul. Cinta yang membuat aku lupa bahwa aku masih punya banyak kesempatan untuk menguras segala keahlian dan keunggulan diri.

Lelaki tanpa Matahari (16)

Tanpa terasa matahari telah beranjak ke peraduan malam. Sementara azan magrib baru saja usai. Sesaat kemudian kejora hinggap di langit yang telah berwarna gelap. Aku masih saja terpaku menatap laut. Pikiranku mengembara, melintas hari-hari indah yang pernah kulalui bersama Amelia. Ya, di tempat ini aku sering menikmati matahari tenggelam bersama Amelia.
Tapi, kini aku sendiri. Hanya berteman desau angin, gelombang lautan, dan camar yang sesekali menukik di depanku. Kemudian aku tiduran di atas pasir, di bawah bulan yang menguning di atas laut. Tengah malam aku baru pulang ke rumah ibu. Kepulanganku yang mendadak, membuat ibu dan dua adik perempuanku terkejut.

Lelaki tanpa Matahari (15)

Gerimis jatuh satu-satu seperti salju. Tapi langit tidak tertutup mendung. Matahari yang baru beranjak dari peraduannya juga nampak utuh. Sementara “kuda mesin” yang kutunggangi meluncur mulus ke arah barat. Tujuanku hanya satu, cepat sampai di Bireuen untuk menjemput kembali matahariku.
Tidak seperti biasa, sepanjang perjalanan aku tidak singgah di tempat mana pun, meski sekedar untuk minum seperti perjalanan sebelumnya. Aku hanya ingin cepat bertemu Amelia dan merampasnya dari orang-orang yang menghalangi kebersamaan kami.

Lelaki tanpa Matahari (14)

Ketika mataku terkuak, kutemukan tubuhku terbaring di pinggir jalan. Astaghfirullaahal’adziim… Sorot mataku mengitari beberapa siswa calon polisi yang berdiri di sekelilingku. Ya, sepeda motor yang kukendarai ternyata terjatuh persis di depan gedung Sekolah Polisi Negara, di puncak Seulawah, Aceh Besar.
Aku mencoba bangkit. Ada sedikit rasa sakit di bahu sebelah kiri. Kutemukan beberapa goresan luka di bagian tubuhku. Sebagian tergores ranting pohon. Sebagian lagi mungkin karena terseret pinggir aspal. Perlahan mulai kurasakan perih di luka-luka itu. Tapi, tetap saja aku memaksa berdiri.

Lelaki tanpa Matahari (13)

“Gimana? Langsung berangkat?” tanyaku seraya menuntunnya ke sepeda motor.
Amelia mengangguk. Kustarter sepeda motor dan kami tancap gas. Membelakangi matahari yang mulai memancarkan terik yang menyengat tubuh.
“Gak ada yang tau kan adek berangkat ama abang?” teriakku, mengimbangi suara kendaraan yang berseliweran di jalanan yang kami lewati.

Lelaki tanpa Matahari (12)

Setelah beberapa kali aku menekan redial, akhirnya ada juga yang mengangkat telepon itu. Dari ujung telepon seluler terdengar suara serak Amelia, seperti usai menguras tangis. “Maafkan adek, bang. Tadi teleponnya memang dipinjam Kak Wati.”

Lelaki tapa Matahari (11)

Kurasa malam belum begitu larut. Setidaknya, jarum jam belum menajukkan pukul 00.01 dini hari ketika aku terjaga dari tidur yang diselimuti kegelisahan. Dari balik jendela aku menyaksikan kunang-kunang meliuk di atas setangkai kembang. Malam melempar pesan lewat jemarinya yang dingin. Dan, tiba-tiba aku ingat pesan singkat dari Amelia yang mampir ke handphoneku tadi sore. Kuraih HP dan segera meneleponnya.

Lelaki tanpa Matahari (10)

Kubiarkan Wati tidur di kamar. Sedangkan aku memilih tidur di sofa. Namun, sepanjang malam aku terus gelisah. Pikiranku mengembara, ingin menembus dinding kamar, tempat Wati tertidur pulas. Bayangan gadis itu terus mengusik alam sadarku. Akh, kucoba mengusir pikiran itu jauh-jauh. Kubenamkan wajahku ke sofa. Aku berharap, cepat tertidur dan terbuai mimpi indah.

Lelaki tanpa Matahari (9)

Aku berjalan gontai kembali ke kamarku, setelah mengantar Amelia hingga ke depan mess, tempat sepeda motornya di parkir. Aku merasa seperti ada sebuah bahaya laten yang akan mengancam kehidupanku. Naluriku mengatakan, keluarga Amelia tidak mungkin menerimaku lagi. Lebih-lebih Wati, wanita yang pernah terperangkap ranjau cinta yang kutebarkan empat tahun lalu. Yang kemudian kuhempas setelah sebulan penuh menemani hari-hariku selama di negeri jiran.

Lelaki Tanpa Matahari (8)

Karena ada Amelia di kamarku, seusai mandi aku langsung menggantikan pakaian di kamar mandi. Begitu kembali ke kamar, kutemukan wajah bidadariku tidak seperti hari-hari sebelumnya. Biasanya, dia selalu membersihkan kamar tidurku sambil menunggu aku selesai mandi dan mengganti pakaian.

Lelaki Tanpa Matahari (7)

Hingga azan isya yang terdengar sayup dari mesjid di seberang sawah, hujan masih saja mengguyur lebat. Aku dan Amelia telah hanyut jauh dalam dunia masing-masing. Dia meringkuk dalam balutan pelukanku. Matanya masih menerawang, menerobos jalanan sunyi. Aku tahu apa yang ia lamunkan, apalagi setelah berkali-kali mendengar helaan nafasnya. Ya, seperti juga yang sedang aku pikirkan. Ingin kebersamaan ini bisa berlangsung selamanya.

Lelaki Tanpa Matahari (6)

Kurasa semburan udara penyejuk ruangan itu dipaskan pada posisi 16 derajad celsius. Namun, butiran keringat kulihat tetap saja mengalir di jidat Raja-01 yang lumayan licin. Ohya, Raja-01 itu panggilan kami untuk pemimpin redaksi. Maklum, Harian Pararaja memang dikelola oleh sejumlah raja dari beragam komunitas berbeda.

Lelaki Tanpa Matahari (5)

“Adek gak mau ikut campur dengan urusan abang di kantor. Tapi adek kan selalu mendukung segala sesuatu yang terbaik menurut abang.”

Lelaki Tanpa Matahari (4)


Perjalanan cintaku dan Amelia berjalan tanpa hambatan yang berarti. Setiap saat terjalin komunikasi, meski sekedar sebuah pesan singkat. Bahkan, setiap akhir pekan dia sering pulang ke Bireuen sekedar menjumpaiku. Oh ya, Amelia kuliah di sebuah universitas di Banda Aceh, sedangkan aku berkantor di Bireuen. Paling tidak, dua minggu sekali kami saling mendatangi. Kalau tidak Amelia yang ke Bireuen, ya aku yang ke Banda Aceh.

Lelaki Tanpa Matahari (3)


Namun, setelah beberapa episode kehidupan kulalui. Aku mendadak berharap kegelapan malam cepat berlalu. Aku tiba-tiba ingin selamanya menikmati matahari pagi. Selalu terbangun sebelum langit di ufuk timur memuncratkan warna merah jingga. Bahkan, aku rela menunggu berjam-jam sekadar menyaksikan jilatan matahari pagi menerobos ventalasi.

Lelaki Tanpa Matahari (2)


Bulan pertama di Jakarta. Hari-hari paling sulit dalam hidupku. Aku terlunta-lunta dari satu penerbitan ke penerbitan lainnya. Aku harus mencari pekerjaan. Kalau tidak segera mendapatkan pekerjaan, berarti aku tidak makan. Mungkin saja, aku jadi gembel dan harus tidur di emperan toko. Dan, kuliahku tidak mungkin bisa kuteruskan.

Lelaki Tanpa Matahari (1)


Aku selalu tersesat di belantara sunyi. Sebuah dunia yang memberiku kenikmatan sekadar mengungkapkan kegelisahan. Aku mencintai malam. Kegelapan kugeluti dalam diam. Sepanjang malam, kurengkuh beragam asa. Kutuang dalam untaian selaksa kata. Ketika subuh datang, semua menjadi satu. Sebuah kemasan cerita. Lalu, aku terlelap dalam jilatan gemercik surya pagi. Ya, aku penulis malam. Entah sampai kapan?