Menghadapi Anomali Cuaca

Selain suhu politik jelang Pilkada 2017 yang semakin memanas, kita juga harus menghapi anomali iklim yang semakin tidak menentu. Cuaca panas, terutama di siang hari, belakangan ini ramai dikeluhkan penduduk Kota Banda Aceh. Terkadang, hujan dan angin kencang juga melanda ibukota provinsi di musim pancaroba ini.


Bila sedang panas, suhu rata-rata di Banda Aceh dan sekitarnya belakangan ini berkisar 34,6 derajat celcius. Meski tidak termasuk kategori ekstrim—36 derajat celcius ke atas—, namun sudah di atas normal yang berdampak kepada kehidupan manusia. Mulai kelelahan, menurunnya produktivitas kerja hingga masalah kesehatan.

Berbagai penyakit makin rentan, seperti gangguan penapasan, stres, stroke, hingga gangguan sistem peredaran darah atau kardiovaskular akibat kepanasan. Sementara hujan di musim pancaroba juga mendatangkan berbagai penyakit, terutama pada anak-anak dan orang lanjut usia. Ini pula yang membuat rumah sakit di Banda Aceh over kapasitas karena membludaknya pasien yang harus dirawat inap.

Kondisi ini sebenarnya lebih diakibatkan oleh ulah kita dalam memperlakukan alam. Karena itu, masyarakat secara berkala perlu selalu diingatkan dampak memperlakukan bumi secara semena-mena. Ancaman pemanasan global dan efek rumah kaca kini semakin nyata mengancam makhluk hidup. Ini semua akibat kerakusan kita dalam menguras isi bumi dan melalaikan tanggung jawab kita selaku khalifah di muka bumi.

Yang paling kita rasakan saat ini tentu efek rumah kaca. Bumi semakin panas. Kutub Utara dan Timur perlahan-lahan mencair. Yang amat fatal, kini ancaman intrusi semakin dekat dengan kita, di mana permukaan air laut kini naik drastis. Pantai-pantai berangsur-angsur tergerus laut.

Banyak ahli memperkirakan pada tahun 2040, Jakarta akan tenggelam. Bisa saja hal serupa akan dialami Banda Aceh yang nyaris sama rendahnya dengan Jakarta dari permukaan laut. Tahun 2040 nanti, diperkirakan Indonesia akan kehilangan banyak pulau, termasuk kepulauan di seputar perairan Aceh.

Proses ini berlangsung akibat penyinaran di bumi sudah tidak lagi berlangsung normal. Sinar mentari yang menembus bumi, kini tak bisa seutuhnya memantul kembali ke langit, karena terhalang pencemaran udara. Sinar itu lalu mengambang dan menguap di permukaan bumi. Bahkan, sebagian besar sinar sama sekali tidak sampai ke bumi, juga akibat terhalang oleh kabut pencemaran udara. Inilah cikal bakal pemanasan global yang membuat bumi makin panas, hujan tidak menentu, serta menenggelam sebagian daratan ke dalam lautan.

Yang bisa kita lakukan saat ini adalah sadar lingkungan. Menciptakan komitmen bersama dalam menjaga bumi melalui pola hidup serasi bersama makhluk hidup lainnya, termasuk hewan dan tumbuh-tumbuhan. Jangan membunuh hewan dan menebang pepohonan secara sembarangan. Apalagi membunuh sesama manusia, yang justru akan memperparah kerusakan permukaan bumi.

Jagalah lingkungan dengan baik dan berkendaralah seperlunya. Di negara-negara maju, saat ini sedang trend menggunakan mobil listrik atau hybrid. Bukan sekedar menghemat BBM, namun sebuah bentuk kesadaran pada ancaman masa depan bumi yang suram akibat perubahan iklim yang sangat ekstrem.

Karena itu, mari introspeksi demi kebaikan anak cucu kita yang akan menempati bumi ini kelak. Mari kita selamatkanlah bumi untuk bisa berputar dan beredar lebih lama dalam sistim tatasurya.[]