Mengatasi Krisis Listrik, Mampukah Kita?

Habis gelap, gelap lagi. Begitulah gambaran arus listrik PLN di Aceh selama ini. Masyarakat Aceh harus menikmati byar-pet atau pemadamaman listrik hingga berjam-jam setiap harinya.


Paling-paling, pihak PLN hanya meminta maaf atas kondisi tersebut. Tanpa merasa bersalah, apalagi bertanggungjawab atas kerugian masyarakat selaku konsumen mereka. Padahal, betapa banyak alat elektronik warga yang rusak akibat pemadaman listrik secara mendadak. Belum lagi kerugian di dunia usaha, yang sebagiannya sangat bergantung pada kecukupan suplai arus listrik.

Masyarakat hanya bisa mengurut dada, tanpa memiliki ruang untuk menuntut ganti rugi kepada pihak PLN. Di sisi lain, konsumen terus dipaksa membayar tagihan rekening listrik tepat waktu. Bila menunggak sampai tiga bulan, langsung diputuskan suplai arus listrik dan dibongkarkan meteranya.

Dengan konsisi ini, kita bisa menyimpulkan bahwa PLN memperlakukan konsumennya secara semena-mena. Setiap pemadaman listrik, mereka hanya beralasan bahwa pasokan arus listrik ke Aceh melalui jaringan interkoneksi Sumatera Utara (Sumut) sedang ada gangguan. Alasan klasik yang terus didengungkan sejak era konflik, tanpa ada solusinya sampai sekarang.

Memang, ketergantungan Aceh pada pasokan listrik dari interkoneksi Pusat Penyaluran Pengatur Beban Sumatera (P3BS), hingga kini masih berlanjut. Kalaupun ada upaya Pemerintah Aceh memutuskan ketergantungan tersebut dengan membangun pembangkit listrik sendiri bersumber dari bahan yang dapat diperbaharui seperti air, panas bumi, angin, bahan bakar nabati dan lainnya, hal itu masih sebatas retorika.

Berbagai MoU di bidang energi kelistrikan yang ditandatangani Pemerintah Aceh dengan pihak investor hanya untuk gagah-gagahan. Tidak pernah terimplementasikan dalam wujud nyata yang bermanfaat bagi rakyat dan pertumbuhan dunia usaha di Aceh. Terkadang, setelah dimulai dengan menghabiskan biaya besar, lalu terhenti di tengah jalan, seperti proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi (geothermal) di Seulawah, Aceh Besar.

Beginilah mental kita di segala bidang. Tanggung jawab dan malu sangat kurang, proyek-proyek banyak mubazir, gelar dan penelitian hanya tempelan, omong besar di segala bidang. Para elit hanya disibukkan dengan mengejar pangkat dan jabatan, diselingi saling berebut proyek demi memperkaya diri sendiri. Sementara masyarakat tetap dibiarkan melarat dengan ketidakberdayaannya.

Sebenarnya, sungguh mustahil Aceh yang kaya sumber energi hingga kini masih mengharapkan pasokan listrik dari Sumatera Utara. Betapa banyak ahli, insinyur, dan doktor bidang kelistrikan di Aceh. Tidak adakah yang tertarik membuat dan memberi sesuatu kepada bangsanya sendiri? Mendesain alat murah sekaligus fungsional untuk mengatasi kelangkaan arus listrik di Aceh.


Akhirnya, kita hanya berharap, para pengambil kebijakan di Aceh dapat memanfaatkan sumber daya energi yang melimpah untuk kepentingan Aceh. Bek peugah-peugah mantong, tapi masyarakat Aceh butuh realisasi dari berbagai program Pemerintah Aceh dalam mengatasi krisis energi listrik. Paling tidak, generasi Aceh mendatang tidak lagi menerima ‘warisan’ byar-pet yang tak berkesudahan.[]