Belakangan ini, makin sulit kita menemukan ruang yang
bebas dari nuansa politik di Aceh. Hampir semua ruang dan kesempatan, dimanfaatkan
oleh para elit politik untuk menarik simpati rakyat. Ruang yang seharusnya
netral pun terkadang tidak luput dari eksistensi politik kelompok tertentu,
seperti forum kepala desa dan momentum perayaan hari besar keagamaan.
Terakhir, momentum Isra' Mi'raj yang kita peringati
setiap tanggal 27 Rajab juga disusupi kepentingan politik. Bukan saja spanduk
ucapan selamat memperingati Isra' Mi'raj dari tokoh-tokoh politik yang
bertebaran di mana-mana, terkadang ceramah tentang perjalanan Rasullulah SAW
menerima perintah salat lima waktu itu, diselipkan ‘pesan sponsor’ terkait
kepentingan Pilkada 2017. Akibatnya, momentum penting bagi umat Islam ini
terasa kurang memberi makna dikarenakan ada kepentingan politik di balik peringatan
tersebut.
Seharusnya, peringatan hari-hari besar Islam hendaklah
kita jaga sebagai momentum milik kita bersama, tanpa latar belakang kepentingan
politik. Melalui peringatan semacam ini, seluruh umat Muslim bisa bersatu,
tanpa melihat warna kita masing-masing. Namun, kalau sudah disusupi kepentingan
politik praktis, tetap saja membuat kita terkotak-kotak pada momentum yang
seharusnya menjadi media pemersatu umat itu.
Menguatnya politisasi di segala ruang dan kesempatan
ini, telah menyeret kita ke alam nihilisme demokrasi. Sebagaimana disebutkan Cornel
West dalam Democracy Matter (2004), demokrasi yang dilakukan secara berlebihan
menciptakan nihilisme demokratik, yakni praktik demokrasi yang diwarnai
strategi kebohongan, manipulasi, dan kepalsuan yang dikemas lewat
jargon-jargon.
Ini pula yang dipertontonkan para elit politik kita menjelang
Pilkada 2017. Di hadapan rakyat, sebenarnya mereka sedang berlomba tampil sebagai
figur yang paling jago berbohong, paling licik dan paling picik. Hanya topeng
yang mereka pakai berkarakter protogonis, seperti topeng moralis, islamis,
kedermawanan, kesederhanaan, dan sebagainya.
Pencitraan yang dibangun tidak saja untuk menciptakan
persepsi positif bagi kelompoknya, tetapi sekaligus dapat membentuk persepsi
negatif bagi kompetitor mereka. Sehingga, mencari keaslian dalam logika pencitraan
justru akan menemukan kepalsuan secara berulang-ulang.
Rakyat bukannya tidak sadar telah menjadi korban kebohongan
para elit politik. Hanya saja tidak pernah jera meskipun berkali-kali
dibohongi. Justeru para elit politik yang terkejut karena rakyat masih
mempercayainya.
Semua ini kita sampaikan, mengingat politisasi apa saja
mungkin akan semakin meningkat seiring mendekatnya pelaksanaan Pilkada 2017. Karena
itu, rakyat kita imbau agar jangan mudah terkecoh dengan pencitran dan jargon-jargon
politik yang dimainkan kelompok tertentu.
Sudah saatnya rakyat bersikap kritis dan cerdas dalam
menentukan pilihan nanti, sehingga Pilkada 2017 menjadi momentum untuk Aceh
yang lebih baik. Sekali lagi, jangan silau dengan upaya-upaya politisasi yang
memang selalu berwajah simpatik, bahkan terlihat populis. Semua itu hanya
kebohongan semata![]