Aceh yang Salah Urus

Berbagai persoalan masih membelenggu Aceh hari ini. Mulai angka kemiskinan dan penganguran yang terus meningkat, hingga krisis energi listrik yang memasuki tahap darurat. Sementara para pemimpin semakin terkesan abai terhadap rakyat, represif, dan cenderung memikirkan dirinya sendiri. Kondisi ini diperparah destabilitas politik menyongsong Pilkada 2017 yang berakibat pada memburuknya stabilitas ekonomi di Aceh.


Untuk tingkat kemiskinan, Aceh masih menjadi provinsi termiskin kedua di Sumatera, setelah Bengkulu. Hingga akhir tahun lalu, tingkat kemiskinan Provinsi Aceh masih di atas rata-rata nasional yaitu 16,98 persen, sehingga bertengger di posisi tujuh provinsi termiskin di Indonesia.

Ini tentu tidak mengada-ngada. Lihat saja kehidupan rakyat kecil di Aceh belakangan ini. Pendapatan nelayan sering tak sebanding modal melaut yang dikeluarkannya. Mereka juga terkadang tidak bisa menjual ikan dengan harga pantas. Sementara petani sering mengeluh karena tidak mendapatkan hasil yang memadai. Harga ketika panen menurun, sehingga menjadi tidak seimbang dengan biaya tanam yang mereka habiskan. Penghasilan buruh juga sangat rendah, bahkan tidak mencukupi biaya dapur keluarganya.

Padahal, Aceh sangat kaya. Selain kekayaan alam yang melimpah, Aceh juga mengelola transfer uang dari Pusat yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Untuk tahun 2016, dana APBN yang mengalir ke Aceh mencapai Rp47,1 triliun, meliputi dana transfer Rp34,5 triliun dan dana kewenangan sekitar Rp12,6 triliun.

Lalu kenapa kita masih tetap miskin? Ini dikarenakan orang-orang yang dipercaya mengurus kekayaan Aceh itu yang tidak tepat. Kita telah mempercayai orang-orang yang salah, sehingga tidak mampu mengelola kekayaan tersebut untuk kesejahteraan seluruh rakyat Aceh.

Di sisi lain, tingkat ketergantuangan Aceh pada provinsi tetangga juga semakin tinggi. Kita sebenarnya selalu surplus gabah, tapi tidak sedikit rakyat Aceh setiap hari mengonsumsi beras yang dipasok dari Medan. Beras yang sebenarnya berasal dari gabah petani Aceh yang dipasok kembali ke daerah ini setelah mereka diolah di Medan.

Begitu juga soal energi listrik yang kita gunakan sekarang ini. Aceh masih sangat tergantung pada suplai arus listrik dari Sumetera Utara. Padahal Aceh memiliki sumber energi yang melimpah, termasuk sumber energi terbarukan.

Dalam perut bumi Aceh terdapat kandungan energi panas bumi (geothermal) dan air (hydropower) cukup besar. Bila dikelola dengan baik, semua itu bisa diolah menjadi energi listrik yang tidak saja cukup untuk Aceh, tapi juga bisa menerangi seluruh Pulau Sumatera. Namun, lagi-lagi kita selalu krisis energi listrik yang memperparah penderitaan masyarakat di tengah kemiskinan yang menderanya.

Kondisi itu hanyalah contoh kecil ketidakmampuan pemerintah kita dalam mengelola sumber daya alam Aceh. Ini dikarenakan kita selalu salah dalam memilih pemimpin. Karena itu, dalam Pilkada nanti, pilihlah tokoh yang menurut nurani kita mampu mengelola kekayaan Aceh untuk kesejahteraan rakyat. Paling tidak, mampu mengurangi angka pengangguran dan kemiskinan, serta bisa membawa Aceh keluar dari krisis energi listrik yang terus membelenggu kita selama ini.[]