Bersama Memperlabat Kerusakan Alam

Masyarakat internasional kembali memperingati Hari Bumi, 22 April 2016. Peringatan tersebut mengingatkan kita tentang kerusakan alam yang semakin parah di penghujung zaman ini. Hutan-hutan mulai gundul, berbagai spesies binatang makin langka, dan ancaman pemanasan global semakin nyata.


Kondisi ini pula yang digambarkan mesin pencari raksaya Google lewat lima doodle yang dipatrikan secara random di laman utamanya. Doodle pertama berupa seekor beruang kutub di tengah luasnya padang salju, lalu seekor rubah merah sedang berlari di tengah hutan, gajah di tengah padang pasir, penyu di tengah gurun, serta terumbu karang dan gurita di tengah luasnya samudra.

Gambaran tersebut terlihat saat membuka laman Google dalam beberapa hari terakhir ini. Seketika kita menyaksikan binatang-binatang yang kesepian di habitatnya. Memberi gambaran bahwa masing-masing spesies binatang tersebut semakin langka akibat kerusakan alam.

Sebenarnya, bukan hanya kelangkaan spesies binatang, kerusakan alam juga mendatangkan berbagai bencana di sekitar kita. Mulai banjir, tanah longsor, hingga perubahan cuaca yang semakin tidak bisa ditebak. Setiap musim penghujan, pasti ada saja wilayah kita yang diterjang banjir. Ini terjadi akibat kawasan hutan yang ditebang habis-habisan hingga gundul.

Soal ini, kita di Aceh sudah memprotesnya sejak era orde baru, ketika gencar-gencarnya hutan kita dibabat untuk berbagai kepentingan kaum pemodal. Namun siapa berani melawan kekuatan gabungan—kekuasaan dan uang—yang memberi izin sekaligus melindungi pembabat hutan.

Setelah berkali-kali berganti rezim, aksi pembabatan hutan tetap saja berlanjut di bumi Aceh. Hanya pola dan pelakunya saja yang berbeda. Tindakan perusakan alam untuk keuntungan segelintir orang malah melebar ke sejumlah daerah di Aceh.

Kondisi topografi tanah juga menjadi penyebab kerusakan alam yang sulit dicegah. Topografi tanah di beberapa lokasi di Aceh kini sudah jauh berubah akibat pergesderan kulit bumi. Sisi lempeng Eurasia yang kita tempati semain tinggi didesak lempeng Indo-Autralia. Sementara konstruksi lapisan tanah yang tidak serupa—ada yang gembur dan ada yang padat—membuat sebagian dataran kita semakin tinggi dan sebagian lainnya semakin rendah.

Hal yang paling merisaukan yang dipicu kerusakan alam tentu saja perubahan iklim tak menentu akibat global warming. Arus tekanan tinggi dan rendah semakin ekstrim, sehingga membuat sebagian besar daerah kita rawan banjir dan angin kencang yang kerap melanda berbagai kawasan di Aceh.

Tidak bisa dipungkiri, kondisi bumi yang semakin buruk ini berkaitan erat dengan ulah kita dalam mengekploitasi alam. Perubahyan iklim yang semakin ekstrim tidak bisa lepas dari ekses penebangan hutan dan pembuangan zat polutan yang semakin menggila di era serba modern ini.


Karena itu, melalui momen peringatan Hari Bumi kali ini, mari menjalani hidup dengan memperlukan alam secara bijak. Bersahabatlah dengan lingkungan, demi memperlambat proses kerusakan alam yang kita tempati ini.[]