GLBT Rambah Aceh, Salah Siapa?

Dalam beberapa bulan terakhir, masyarakat dunia kembali dihebohkan dengan isu Gay Lesbian Bisexual Transgender atau GLBT. Belakangan, isu penyimpangan seks itu merebak di Indonesia, setelah mereka berdemo menuntut persamaan hak di berbagai lokasi strategis di ibukota.


Komunitas itu juga makin gencar berkampanye di media sosial. Dengan berbagai kemasan, para pendukung LGBT terus menyuarakan tuntutan persamaan hak. Selain berupaya menggaet simpatisan atau anggota baru dari kalangan remaja dan anak-anak, mereka juga memperkokoh eksistensi sebagai komunitas yang diakui internasional.

Disebut-sebut, kiprah mereka di Indonesia makin berkibar setelah mendapat suplai dana asing dalam jumlah besar. Kini, pergerakan mereka pun—secara sembunyi-sembunyi—sudah menyentuh sejumlah kota di Aceh. Bila tidak diantisipasi secara serius, bukan mustahil eksistensi mereka akan merajalela di bumi Aceh.

Sebenarnya sudah rahasia umum, kalangan berprilaku seks menyimpang  sudah ada sejak lama di Aceh. Mayoritas para waria pekerja salon di Aceh juga melakukan penyimpangan seks, baik sesama waria maupun dengan pria penganut bisex—pria penyuka sejenis sekaligus lawan jenis.

Di Banda Aceh, aktivitas mereka sempat marak di seputaran Peunayong, bantaran Krueng Aceh, hingga Terminal Gampong Baro. Aktivitas waria penjaja seks ini juga marak di sejumlah kawasan di Lhokseumawe, Langsa, dan berbagai kota lain di Aceh.

Siapa mereka umumnya? Ya, anak-anak Aceh juga. Bahkan, ada yang datang dari keluarga orang terhormat di Aceh. Dilatarbelakangi berbagai persoalan, mereka tumbuh menjadi penganut seks menyimpang. Bila sudah demikian, siapa yang harus disalahkan?

Tidak bisa dipungkiri, pihak pertama yang patut disalahkan adalah orangtua dan para pemimpin umat. Sebab, umumnya anak-anak Aceh berperilaku menyimpang dikarenakan mereka sudah tidak lagi memiliki tauladan. Mereka kehilangan kendali, sehingga mencari ketenangan baru dengan cara mereka sendiri, hingga terjebak dalam komunitas menyimpang.

Bila hari ini banyak anak Aceh yang terjerat GLBT, ini kesalahan para orangtua dan para pemimpin umat. Tidak ada alasan untuk berkelit. Pemerintah membuat berbagai sistem, mulai sistem ekonomi, hukum dan sosial hingga Syariat Islam. Tapi karena penerapannya gampang diselewengkan, serba tanggung dan setengah hati, maka semua sistem tidak akan berarti. Bahkan menjadi bahan tertawaan, bukan saja oleh orang luar, tapi ditertawakan remaja Aceh sendiri.

Kebanyakan anak Aceh kini tidak lagi percaya pada orangtua yang memang tidak menunjukkan suri tauladan yang mulia. Sibuk mencari jabatan dan harta, lalu pamer kekayaan dunia dengan mobil mewah dan pakaian indah. Jadi, jangan hanya menyalahkan mereka. Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya. Orangtua yang pada dasarnya tidak punya malu, maka anak-anaknya kini juga tidak punya rasa malu walau sebagai pengidap seks menyimpang.


Dari sisi evolusi manusia, kita semua boleh jadi menyimpan hawa nafsu hewani. Kini, hal itu terbangkitkan kembali ketika zaman menjadi edan. Padahal, semakin jauh ke ujung zaman, semestinya kita semakin harus menunjukkan jatidiri sebagai manusia. Mengetahui apa arti hidup dan dihidupkan di bumi yang fana ini. Mari merenung dan introspeksi, semoga ke depan tidak ada lagi anak Aceh yang terjerat GLBT. Semoga![]