Tahapan Pilkada 2017 tinggal hitungan bulan. Sejumlah
nama, tanpa mengukur kapasitas dan integritas diri, tiba-tiba memproklamirkan diri
sebagai kandidat yang akan diusung partai tertentu.
Fenomena munculnya kandidat abal-abal ini merata di
seluruh Aceh, baik di kabupaten/kota maupun di level provinsi. Tanpa malu-malu,
seolah rakyat gampang dibohongi, mereka dengan penuh percaya diri berbicara di
media. Terkadang menawarkan berbagai konsep—sebagian besar konsep peubangai ureueng—dalam membangun daerah
bila terpilih nanti.
Di tingkat provisi, sejauh ini ada belasan nama yang
mengaku siap maju sebagai calon gubernur pada Pilkada mendatang. Sebagian besar
dari nama-nama yang muncul itu merupakan kandidat abal-abal yang tidak memiliki
dasar kuat untuk mencalonkan diri. Hanya beberapa nama yang dianggap layak,
walau lemah dari segi kapasitas dan integritas namun memiliki elektabilitas
yang memungkinkan maju sebagai Cagub Aceh periode 2017-2022.
Begitu juga di kabupaten/kota, fenomena munculnya kandidat
abal-abal semakin tak terbendung menjelang pesta demokrasi serentak di Aceh. Umumnya
mereka hanya mengandalkan kekayaan dan kedekatan dengan elite politik di
daerahnya. Sementara persoalan elektabilitas, di luar pertimbangan mereka. Apalagi
bicara kapasitas dan integritas, sangat jauh dari kriteria calon pemimpin yang
diinginkan rakyat.
Bisa saja, fenomena itu membuat rakyat gampang-gampang
susah dalam menentukan pilihan. Apalagi setiap kandidat mempunyai cara-cara
meraih simpati publik yang sama-sama menarik dan menjanjikan. Bila tidak
selektif, bisa saja membuat rakyat terkecoh.
Namun, kita meyakini rakyat semakin cerdas dalam
menentukan pilihannya pada Pilkada nanti. Rakyat tidak akan mudah tertipu oleh peforma
kandidat, juga tidak terpengaruh oleh uang atau pemberian-pemberian lain yang
menjurus kepada suap atau money politic.
Berangkat dari pengalaman Pilkada lalu, rata-rata warga
Aceh yang memiliki hak pilih pada Pilkada 2017 adalah pemilih yang cerdas.
Bahkan, kebanyakannya adalah pemilih kritis yang bisa menilai mana calon layak
dan mana calon abal-abal.
Karena itu, para kandidat yang tidak memiliki kapasitas
dan akseptabilitas yang memadai, lebih baik membuang jauh-jauh keinginannya
menjadi kepala daerah. Sebab, kebanyakan calon pemilih akan menilai kualitas para
kandidat tersebut dari visi-misi, program yang ditawarkan, serta pengetahuan
kandidat tersebut terhadap persoalan daerah.
Para kandidat yang berkapasitas pun, kita imbau untuk berhati-hati
dalam menebar pesona dan janji-janji muluk. Bisa saja yang dilakukan itu justru
menjadi blunder yang meruntuhkan kepercayaan publik terhadapnya.
Di luar itu, dari calon-calon yang munculs untuk kandidat
gubernur, tampaknya belum ada calon alternatif yang bisa ‘memuaskan’ hasrat
perubahan besar bagi daerah ini. Kita boleh berbangga dengan munculnya nama
Tarmizi Karim, Irwandi Yusuf dan Muzakir Manaf sebagai Cagub Aceh pada Pilkada
nanti. Tapi sayang, kita melihat mereka juga belum memiliki konsep jelas dalam menakhodai
Aceh selama lima tahun ke depan.
Kini, kita hanya bisa menaruh harapan, semoga Pilkada 2017
bisa melahirkan pemimpin yang baik bagi Aceh dan masyarakatnya. Pemimpin yang
cerdas dan bijak, yang didukung seluruh rakyat dengan ikhlas, tanpa saling
curiga seperti selama ini.[]