Mualem Tersandera Konflik Internal

Konflik internal terus melilit Partai Aceh (PA) menghadapi Pilkada 2017. Tidak saja di level elit, perpecahan juga terjadi di sejumlah daerah, terutama terkait penetapan bakal calon bupati/walikota yang akan diusung partai lokal ini.


Di tataran elit, terjadi tolak-tarik kepentingan soal bakal calon wakil gubernur yang akan mendampingi Ketua Dewan Pimpinan Aceh (DPA) PA Muzakir Manaf nanti. Belakangan tersiar kabar, Cagub yang akrab disapa Mualem ini berkeinginan menggaet Ketua DPD Partai Gerindra Aceh TA Khalid sebagai wakilnya. Namun, keinginan itu menuai protes dari sejumlah petinggi partai, terutama mereka yang menginginkan Cawagub dari internal PA.

Disebut-sebut, penolakan terhadap TA Khalid memuncak dalam pertemuan Mualem dengan kalangan GAM alumni Tripoli di Kabupaten Pidie, belum lama ini. Mualem diminta mempertimbangkan lagi keinginannya menggandeng TA Khalid, kalau tidak ingin ditinggalkan eks kombatan di Pilkada nanti.

Sementara perpecahan di beberapa DPW PA lebih parah lagi, seperti di Abdya, Nagan Raya, Bireuen, dan beberapa kabupaten/kota lainnya. Teranyar, soal penetapan bakal calon Bupati Bireuen yang akan diusung PA. Di internal KPA/PA Wilayah Bate Iliek itu, dua kekuatan mulai terjebak konflik terbuka antar sesama eks GAM.

Di satu sisi, Ketua KPA/PA Wilayah Bate Iliek Tgk Darwis Djeunieb bersikukuh mengusung kembali Ruslan M Daud. Di sisi lain, para panglima sagoe dan kalangan akar rumput PA di sana menolak kandidat incumbent tersebut dan sepakat mengusung Khalili sebagai Cabup Bireuen periode 2017-2022.

Pertikaian dua kubu itu memuncak dengan saling rebut menduduki kantor DPW PA Bireuen. Bahkan, massa pendukung Khalili menyatakan sikap tidak lagi mengakui Tgk Darwis Djeunieb sebagai Ketua KPA/PA Wilayah Bate Iliek. Mereka mengembalikan kepemimpinan itu kepada Ketua KPA Pusat dan DPA PA di Banda Aceh.

Berbagai konflik internal yang mendera PA belakangan ini menjadi fakta ironis yang menyandera langkah Mualem menuju kursi Aceh-1. Konflik terbuka tersebut, diakui atau tidak, telah menguras energi dan pikiran Mualem yang semestinya difokuskan untuk meningkatkan elektabilitas, agar tidak diselip para pesaingnya di Pilgub Aceh nanti.

Meski konflik internal sudah berkali-kali menerpa PA, kisruh menjelang Pilkada 2017 ini harus diakui sebagai ujian politik terberat bagi Mualem. Baik konflik di tingkat DPA maupun di tinggkat DPW, bila tidak mampu diredam dalam waktu dekat, bukan mustahil Mualem akan kalah telak dalam perburuan kursi Aceh-1.

Bisa saja kelompok yang kecewa dengan keputusan Mualem terkait penetapan Cawagub (pendampingnya) serta penetapan Cabup/Cawalkot yang diusung PA di kabupaten/kota, akan membelot ke kubu kandidat gubernur yang menjadi rival Mualem pada Pilkada nanti. Kecenderungan ini harus diantisipasi Mualem dengan mengkaji ulang setiap keputusan yang telah memicu konflik di tubuh partai yang dipimpinnya.


Karenanya, Mualem harus benar-benar memainkan peran sebagai orang tua yang bijak dalam mengakhiri berbagai konflik dan polemik yang kini mendera internal PA. Bila Mualem mengabaikan prinsip demokrasi, transparansi, dan meritokrasi, serta cenderung memaksakan kehendak, maka bersiaplah menuai kekalahan di pertarungan sesungguhnya nanti. Tidak saja kalah dalam Pilkada 2017, PA juga terancam kehilangan kursi pada Pemilu Legislatif 2019, baik DPRA maupun DPRK seluruh Aceh.[]