Bursa kandidat Gubernur Aceh semakin marak. Hampir
semua perhatian tertuju kepada polarisasi kekuatan figur yang akan berlaga di Pilkada
2017. Mulai pergerakan masing-masing calon dalam menggalang dukungan rakyat
hingga persoalan kendaraan politik yang digunakan nanti, tidak luput dari
perhatian publik.
Dalam perebutan stempel partai politik, sejauh ini baru
Muzakir Manaf yang dipastikan akan diusung Partai Aceh dengan 29 kursi di DPRA dan
didukung Partai Gerindra (3 kursi). Sementara Irwandi Yusuf dan Tarmizi Karim
masih sama-sama berebut dukungan Parpol yang mereka incar, terutama Partai
NasDem dan Partai Demokrat yang masing-masing memiliki 8 kursi di DPRA.
Sebagai modal awal, Irwandi Yusuf mengantongi stempel
Partai Nasional Aceh (PNA) dengan tiga kursi. Sedangkan Tarmizi Karim sudah
mendapatkan stempel Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) yang
memiliki satu kursi di DPRA. Untuk melengkapi syarat pengusungan bakal calon,
saat ini keduanya masih menunggu keputusan Partai NasDem dan Partai Demokrat,
di samping mengintensifkan lobi-lobi dengan partai politik lainya.
Baik Irwandi maupun Tarmizi, tentu sama-sama masih mengincar
stempel dukungan Partai Golkar (9 kursi), PAN (7 kursi), PPP (6 kursi), PKS (4
kursi), serta PBB dan PDA yang masing-masing memiliki satu kursi di Parlemen
Aceh. Peluang mendapatkan dukungan partai-partai tersebut masih terbuka lebar,
tentu dengan bargaining seusai kekuatan politik masing-masing Parpol.
Sementara satu kandidat lainnya, Zaini Abdullah jauh-jauh
hari memang tidak berupaya meraih dukungan partai politik. Setelah terdepak
dari “konvensi” Partai Aceh, calon incumbent ini mempersiapkan diri maju
melalui jalur independen.
Dari empat kandidat kuat ini, belum satu pun menetapkan
bakal calon wakil yang akan mendampinginya. Dengan berbagai pertimbangan, para
kandidat masih menggodok bakal Cawagub dan baru dimunculkan saat pendeklarasian
pasangan calon nanti.
Bagaimana dengan kandidat lain? Meskipun mencalonkan
diri adalah hak demokratis setiap orang, kita sarankan untuk menarik diri
karena kemungkinan berhasil sudah sangat tipis. Biarlah empat figur itu saja
yang tampil memperebutkan kursi Aceh-1. Sebab, dengan dinamika politik Aceh
kekinian, dukungan rakyat sudah hampir habis terkotak-kotak pada empat kandidat
gubernur yang semuanya berpengalaman memimpin Aceh itu.
Dengan segala kekuatan dan kekurangannya, empat figur itu
sudah dikenal masyarakat Aceh. Muzakir Manaf merupakan Wagub Aceh sekarang,
Irwandi Yusuf (mantan gubernur), Tarmizi Karim (mantan Plt gubernur), dan Zaini
Abdullah (gubernur sekarang). Kondisi ini tentu menyulitkan figur lain untuk bersaing
dengan mereka.
Dari empat figur ini, semuanya memiliki peluang sama
untuk memenangkan pertarungan. Muzakir Manaf, meskipun didukung mesin politik yang
kuat, tetap saja punya celah untuk ditaklukkan. Demikian juga Irwandi Yusuf, walau
menempati posisi teratas beberapa hasil survei, bukan jaminan bisa menang mudah
di Pilkada nanti.
Bagimana dengan Tarmizi Karim? Perhitungannya,
tergantung kinerja tim relawannya, partai pendukung dan Cawagub yang akan
mendampinginya. Begitu juga dengan Zaini
Abdullah, kalau timnya bekerja sungguh-sungguh, calon incumbent ini pun sangat
pantas diperhitungkan. Intinya, empat kandidat tersebut merupakan tokoh terbaik
Aceh hasil seleksi alam.[]